Selasa, 12 November 2013

Sudah Amankah Air Yang Kita Minum?

Semua makhluk hidup membutuhkan air, terlebih lagi manusia, manusia cenderung kuat tanpa makan tapi akan lemah tanpa minum, artinya kebutuhan manusia akan air begitu tinggi. Di era zaman yang serba praktis, berbagai teknologi bermunculan semuanya muncul dengan maksud untuk kemudahan manusia. Salah satu teknologi yang kini sedang berkembang adalah teknologi penyaringan air, dimulai dari yang paling sederhana hanya menggunakan filter kerilkil, pasir, karbon, dengan sistem grafitasi (slow sand filter) hingga skala besar dan sudah mampu disalurkan kepada masyarakat. Lantas apakah semua teknologi itu sudah benar benar aman bagi kesehatan kita?

Kita coba cek satu persatu, dahulu ketika air minum kemasan belum begitu banyak dipasaran maka orang tua kita merebus air hingga menggolak sebelum akhirnya kita minum, amankah cara ini.. jelas aman faktanya dengan merebus air hingga mendidih mencapai 100 derajat C, itu sudah mampu membunuh bakteri coli dan mikroorganisme lainnya dalam air. namun sayangnya pemanasan belum mampu sepenuhnya menghilangkan kandungan kimiwai dalam air yang berlebih, oleh sebab itu kita harus lebih selektif dan teliti dalam memanfaatkan air bersih sebelum akhirnya kita masak dan kita minum. Ada syarat sederhana untuk memastikan bahwa air bersih, air tanah, air sungai yang hendak kita gunakan itu akhirnya layak untuk kita minum, yaitu pastikan air bersih tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa. Jika salah satu tidak memenuhi, misalkan ternyata airnya berbau maka untuk lebih amannya kita tidak menggunakan air tersebut untuk minum, jika memang terpaksa maka harus disaring terlebih dahulu.

Selangkah jauh lebih maju, kini sudah muncul perusahaan pengelola air minum atau lebih kita kenal PDAM, PAM (Air Minum Perpipaan). Teknologi canggih dan skala besar, PDAM mampu merubah air dari kualitas terburuk (air kali) menjadi air yang setara dengan kualitas air minum. Tanpa harus melalui proses pemanasan air PAM sebenarnya sudah bisa dikatakan layak minum. Melalui pembubuhan zat chlor yang berfungsi sebagai desinfektan (pembunuh kuman/bakteri) air yang tadinya penuh dengan kuman akhirnya bersih dan layak minum, sayangnya fakta yang jatuh dipelanggan air yang keluar seringkali keruh atau bahkan bau zat chlornya sangat menyengat. Dari berbagai studi, ternyata orang yang meminum air yang mengandung klorin memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena kanker kandung kemih, dubur ataupun usus besar. Sedangkan bagi wanita hamil dapat menyebabkan melahirkan bayi cacat dengan kelainan otak atau urat saraf tulang belakang, berat bayi lahir rendah, kelahiran prematur atau bahkan dapat mengalami keguguran kandungan. Selain itu pada hasil studi efek klorin pada binatang ditemukan pula kemungkinan kerusakan ginjal dan hati (http://filterpenyaringair.com/bahaya-klorin-pada-air-minum/). Sehingga akhirnya banyak pelanggan PDAM tidak juga menggunakan airnya untuk keperluan minum melainka untuk keperluan lain. Beberapa kasus justru nampaknya agak sedikit lebih parah, air yang keluar justru sangat kotor, hal ini diduga akibat kontaminasi pencemar pada sambungan pipa, jika sudah begini jelas pelanggan yang akan dirugikan.

Kini teknologi semakin canggih, air bersih yang mentah kini bisa langsung diminum dengan sistem filtrasi (penyaringan) dari mulai skala kecil untuk rumahan hingga skala besar yang mampu menghasilkan air berpuluh galon dalam sehari. Bahkan kini banyak bermunculan usaha di bidang penyaringan air atau yang lebih dikenal depot air minum isi ulang, kini usaha seperti ini sangat menjamur bahkan penuh persaingan. Hanya dengan uang Rp 3000,- sampai dengan Rp 4000,- kita sudah bisa menikmati air yang layak minum. Lantas pertanyaan pun lagi lagi muncul, betulkah sudah aman? Aman jika saja prosedur teknis hyginitas bisa terjaga dan terkelola dengan baik. Perlu diketahui sama seperti pengolahan PDAM bahwa didepot air minum isi ulangpun tidak terdapat proses pemanasan air. Maka karbon aktif dan  lampu UV lah yang berfungsi menghilangkan kandungan kuman dalam air, banyaknya proses filtrasi pada instalasi DAM (Depot Air Minum) memang terbukti cukup efektif dalam menurunkan kandungan logam dan zat yang berlebih dalam air sehingga air pun akhirnya mampu memenuhi syarat baku mutu air minum. Tapi perlu diingat bahwa bakteri/kuman mampu melewati proses filtrasi oleh sebab itu di butuhkan karbon aktif yang berfungsi sebagai desinfektan alami ditambah lampu UV pada proses terakhir yang karena radiasinya mampu membunuh mikroorganisme. Untuk itu pengusaha harus betul betul jeli dan peduli terhadap kondisi sanitasi dan kebersihan disekitar instalasi, kapan filter dan lampu UV harus diganti, menjaga kebersihan dan selalu menutup tempat pengisian karena notabennya itu adalah tempat steril, dan terakhir pemeriksaan rutin terhadap kualitas air wajib dilakukan minimal 3 bulan sekali untuk memastikan bahwa air minum sudah betul betul aman. Sayangnya banyak pengusaha belum paham prosedur pengelolaannya, terkadang kelalaian pun terjadi sehingga akhirnya menimbulkan kerugian bagi banyak pihak. 

Beberapa TIPS aman jika kita ingin membeli air minum di DAM:
1. Pastikan DAM memiliki SERTIFIKAT LAIK SEHAT yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan setempat  dan sertifikat ini biasanya berlaku selama 3 tahun. biasanya pengusaha menempelnya pada instalasi DAM. lihat dengan teliti jangan tertipu pada ijin usaha/domisili karena sebenarnya itu tidak berguna tanpa sertifikat laik sehat yang merupakan rekomendasi untuk kesehatan, jika tidak terlihat coba tanyakan pada pengusaha atau pengelola.

2. Pastikan DAM memiliki hasil pemeriksaan kualitas air minum terbaru minimal 6 bulan terakhir karena itu merupakan kewajiban bagi pengusaha, banyak pengusaha yang menempelkan hasil namun tidak up date, sekali lagi teliti demi kesehatan kita.

3. Pastikan lampu UV dalam keadaan menyala dan masih dalam keadaan efektif. Perlu diketahui lama efektifitas lampu UV adalah 8000 sampai 10.000 jam pemakaian, lewat dari itu air minum sudah tidak sehat lagi karena berarti masih ada kuman dalam air minum.

4. DAM dalam keadaan bersih baik instalasi maupun lingkungan sekitar, pastikan pintu pintu pengisian dalam keadaan tertutup, jika terbuka berati sudah terjadi kontaminasi dari luar baik dari debu, polusi, dan bakteri. lihat juga tenaganya apakah sudah dalam keadaan bersih.

5. Pastikan air bersih yang digunakan bukan berasal dari air tanah, karena air tanah beresiko tercemar dari tinja atau resapan air kotor sehingga kandungan kimia dan bakterinya sangat tinggi. dan lagi sebenarnya penggunaan air tanah untuk tujuan komersil tanpa ijin dan dokumen lengkap merupakan pelanggaran hukum. Pastikan air berasal dari suplier air bersih/baku yang mendapat rekomendasi dari APDAMINDO (Asosiasi Pengusaha Depot Air Minum Indonesia).

6. Jika ke 5 saran diatas terpenuhi namun ternyata air masih berbau atau berasa, atau bahkan terdapat partikel partikel kecil dalam air maka "STOP ! hentikan konsumsi, ajukan komplain, jika tidak ada respon, beralih dan laporkan agar bisa ditindak lanjuti oleh pihak berwenang, tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya kesakitan atau wabah dikemudian hari.

Berbagai alternatif kemudahan dalam memperoleh air layak minum, namun kini kita dituntut untuk lebih jeli, alat, lingkungan, tempat, orang bisa menjadi kontaminan bagi air yang akhirnya bisa menimbulkan kesakitan. 

Kebutuhan air yang tiada henti, apa daya lingkungan telah banyak terkontaminasi, air sudah tidak murah lagi.. peduli agar air kembali murni, jaga kesehatan lingkungan dan perbaiki sanitasi.. dan biarkan air jernih kembali.






Senin, 15 Oktober 2012

Anak Sehat di Mulai dari Tangan Yang Sehat

Cuci tangan dapat mencegah 80% penyakit infeksi umum dan 45% penyakit infeksi berat.Dapat mencegah transmisi berbagai patogen,mengurangi bakteri terkontaminasi,dan mengurangi penyakit yang ditularkan melalui makanan.

Cara sederhana untuk tetap sehat,karena cuci tangan pakai sabun tidak memerlukan banyak waktu,namun sangat penting untuk mencegah penyakit













Terakhir Guru Yang Sehat di mulai dari tangan yang sehat (Bp. Dedi (Kepsek. SD Cikiwul III))

Kamis, 29 Desember 2011

Sentani dan Papeda Pertama


Rabu itu selepas kegiatan di Puskesmas Kotaraja Jayapura.. sebelum keberangkatan kami kembali ke Jakarta.

Saya hanya bisa menyebutkan.. "keberuntungan".. saya bisa ada di Sentani menikmati pemandangan air yang begitu luas dengan hiasan gugusan pegunungan dan yang menyertainya.. yap saya berada tepat di pinggir Danau Sentani Papua.. di sebuah rumah makan entah saya lupa namanya yang menyajikan makanan khas papua.

Awalnya tidak pernah membayangkan untuk bisa pergi kesana, sejak pertama kali Kepala Puskesmas menawarkan saya untuk berangkat ke Papua menggantikan tugas beliau menyajikan presentasi. Ragu.. apakah bisa.. apa yang mesti saya sampaikan nanti.. saya hanya seorang staf biasa.. beruntunglah presentasi yang yang akan disampaikan masih berhubungan dengan sanitasi.. sesuai dengan profesi tentunya.. beruntung.. pasti akan mudah.

Akhirnya senin pagi (28-11-2011)  setelah subuh kami (saya, 3 orang staf Kemenkes) berangkat dari Soekarno-Hatta menuju Sentani Papua. 5 Jam lebih penerbangan akhirnya sampai juga di Sentani tepat jam 1.30 waktu papua (selisih 2 jam dari WIB). Panas plus asing sekali berada di sini.. Sentani memang dikelilingi pegunungan tapi panas mungkin karena dekat perairan. Yap saya kini berada di kampung orang.. kulit putih hanya minoritas disini.. tapi mereka tetap ramah.. mungkin terkesan tidak begitu perduli dengan kami. kami pun dijemput dan langsung diantarkan ke Hotel Matoa di Kota Jayapura. istirahat full istirahat.. untuk kegitan besok (Selasa).

Dengan mengendarai Taxi.. yap mereka menyebutnya Taxi.. bukan mobil Taxi sedan seperti di Jakarta tapi lebih kepada minibus sewaan.. mungkin khusus untuk turis dan wisatawan.. harganya pun tidak karuan.. tawar menawar harga adalah usaha yang disarankan... kami berangkat dari hotel menuju Kotaraja, tempat Staf Kemenkes akan melakukan Prsentasi, Pemicuan dan Pelatihan tentang alat pengaman jarum suntik. Saya di sini hanya presentasi mungkin lebih tepatnya sharing..  tentang apa yang saya lakukan di Puskesmas saya, peserta pada hari selasa itu adalah teman-teman seprofesi bahkan ada juga yang dokter, tentunya mereka memang sudah sangat paham. Semuanya berjalan dengan lancar dari Kemenkes melakukan pemicuan tentang pengetahuan limbah B3 Medis dan acara hari itu di tutup dengan peragaan alat dan foto bersama. Sore setelah ashar kami kembali kagi ke hotel. Malamnya sebentar kami jalan-jalan di kota hanya menikmati suasana, dan kembali bersitirahat untuk kegiatan besok.


Presentasi Tim Kemenkes
Pemicuan Limbah B3


  
Peserta Pelatihan

Demo Alat


Rabu ... adalah hari terakhir kami di Jayapura... tapi ada beberapa kegiatan.. yang masih harus diselesaikan.. melihat aplikasi.. apa yang telah disampaikan kemarin.. Selasa malam kami sudah memgurus administrasi hotel.. mengurus pembayaran... sehingga Rabu pagi kami bisa langsung check out.. Kembali  dengan mengendarai Taxi.. belajar dari kemarin saya pun menawar harga serendah mungkin.. deal.. kami berangkat menuju Puskesmas Kotaraja.. itulah tempat kegiatan kami hari itu.. tidak berlangsung lama.. apa yang sudah di sampaikan oleh Staf Kemenkes benar-benar sudah diaplikasikan... dan kami hanya melihat-lihat saja... sedikit bercengkerama saya bersama teman-teman HAKLI Jayapura.. saling bertanya tentang pekerjaan.. masalah-masalah yang dihadapi.. semuanya sama tapi saya sadar bahwa pekerjaan mereka disini jauh lebih berat.. keadaan warga yang mungkin masih primitif.. medan yang berat.. ditambah situasi politik yang tidak kondusif.. menjadi tantangan yang berat bagi Sanitarian di Jayapura. Setelah berfoto bersama.. kami pun pamit.. untuk menuju Bandara Sentani kembali menuju Jakarta.

Aplikasi

Bersama HAKLI Jayapura



Kami diantar oleh Kepala Sanitasi dan stafnya menuju Bandara.. kami pun mampir sejenak disebuah pasar untuk membeli ikan asap... oleh-oleh untuk kami bawa pulang... Tidak lama kami kembali melaju menuju Bandara.. sepanjang perjalanan kami berbincang.. Bapak Kepala banyak menceritakan tentang kiprahnya di Papua.. menunjukan lokasi-lokasi dimana pernah terjadi pertikaian.. menceritakan tentang suksesnya beliau menjalankan usaha sampingan di Papua.. dan betapa jelas terlihat tentang idealisnya beliau.. untuk bisa pensiun muda.. Papua memang elok.. kita akan akan banyak disuguhi pemandangan bukit-bukit.. dengan jalan yang berkelok-kelok.. naik turun, dengan sisi sebelah kiri adalah perarian yap.. “Danau Sentani” .. mata saya hampir tidak luput dari pemandangan disetiap lokasi yang kami lewati sesekali sedikit berkontemplasi.. merenung.. kembali berfikir heran.. tapi senang... Tidak disangka tiba-tiba mobil menepi.. pada sebuah rumah makan tepat di pinggir Danau Sentani.



Subhanallah.. indah nian pemandangannya.. hamparan perairan biru luas dengan dihiasi gugusan bukit.. dibawah terik dan birunya langit siang itu.. terlihat susunan rumah ditepi danau tampak rapi lengkap dengan keramba-keramba yang dipenuhi ikan-ikan hidup yang segar, sesekali terlihat sampan kecil tengah menyeberangi pulau.. yang jaraknya lumayan jauh.. ya.. hanya dengan dayung.. airnya yang jernih.. bahkan ikan-ikan masih dapat saya lihat dari atas sini.. sesekali muncul sesekali tenggelam... terima kasih sudah membawa saya sejauh ini.. inilah hiburan terbaik saya di Papua.. saya sangat menikmati momen ini... padatnya kegiatan membuat kami benar-benar tidak punya waktu berjalan-jalan.. tapi disini saya manjakan mata saya untuk terus tertuju pada setiap pandangan yang tampak tidak berujung sisi demi sisi Danau Sentani.. meski hanya persinggahan sementara.. dan meski hanya beberapa menit saja, dan disini saya merasakan uniknya makanan khas papua “Papeda”.. makanan kental dari sagu... dengan sayur ikan kuah kuningnya.. kita tidak tidak perlu repot mengunyah.. secara otomatis papeda akan langsung masuk ke usus kita.. “sliurrrpppp!”. Ibarat kita bahwa papeda adalah nasi bagi mereka... kini nasi pun sudah masuk tanah papua.. alhasil.. lebih disukai ketimbang papeda sendiri... tertinggal memang... tapi percayalah sesuatu yang khas.. akan tetap dicari dan dicintai orang banyak... karena keunikannya.. karena sejarahnya.. dan karena itulah integritas mereka..

Sentani Lake
Menyantap Papeda

Puas kami menikmati suguhan di pinggir Danau Sentani ini.. kami kembali melanjutkan perjalanan... menuju bandara .. untuk terbang kembali menuju Jakarta.. Sentani – Soekarno-Hatta..



Suguhan singat tapi berkesan, inilah tempat terjauh yang saya singgahi.. “keberuntungan” mungkin itulah modal saya.. tantangan dan sebuah pengalaman.. yang Insya Allah tidak akan lekang dimakan zaman..


Itulah.. Sentani dan Papeda pertama saya.. berharap saya bisa “menyicipinya” lagi.. TERIMA KASIH.

Rabu, 09 November 2011

Galeri Sanitasi


MCK umum bantuan di daerah Kelurahan Ciketing Udik, namun belum bisa dimanfaatkan hingga sekarang karena terkendala listrik. Sosialisasi dan komitmen yang baik mengenai pengelolaan MCK ke depan perlu dilakukan sebelum dibangunnya MCK antara pihak yang memberi bantuan, pemerintah dan masyarakat.



Sumur Tua menjadi cadangan air warga ketika listrik mati, mmm tapi serem juga coz ga ada bibir sumurnya, hati-hati kejeblos ya pa.. bu...



BAB di Empang yuk..? STOP.. ini sama saja kita BAB Sembarangan, keterbatasan ekonomi, pengetahuan yang rendah dan kebiasaan membuat mereka masih melakukan ini. Gambar ini diambil bukan didaerah terpencil tapi masih banyak kita temui di Kota se Metropolitan Bekasi.. Apakah mereka tahu ya.. yap.. masalah sanitasi belum menjadi fokus urusan pemerintah.. mungkin karena kotor dan bau... hehe..



Terminal air menjadi penyalur air bersih untuk kebutuhan warga, sumber airnya berasal dari sumur artesis namun sayang sudah tidak berfungsi lagi. Kurangnya anggaran perawatan tampaknya masih menjadi kendala. Terakhir saya kembali, tandonnya sudah lenyap di telan bumi.


Ada yang mau komentar...?



Airnya mengalir smapah jauh.... Sumur Artesis dengan kedalaman lebih dari 60 m sebagai bentuk kompensasi untuk warga disekitar TPA Bantarggebang karena resiko tercemarnya air tanah mereka, masih banyak warga yang memanfaatkan sarana ini karena kualitasnya lebih baik, namun meski begitu kendala masih ada saja ditemukan.


Ade with NOKIA 6300 2MP

Senin, 26 September 2011

Tidak hanya sekedar tenaga kesehatan dan pasien

Assalamu'alaikum sobat.. off lama banged ni blog, ok ok "kesedihan" ini kita tuangkan saja melalui tulisan ini yah.. hehe... Kali ini saya mau bercerita tentang salah seorang tenaga kesehatan di puskesmas tempat saya bekerja. Yap beliau adalah tenaga pemegang program TB dan kebetulan TB adalah salah satu penyakit berbasis lingkungan. Banyak cerita unik, pengalaman menarik, sampai pada insiden yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup hehe.. lebay. 

Beliau adalah Ibu Ratna Pardede, salah satu perawat senior di puskesmas kami, kami sering melakukan survei TB bersama, menyusuri jalan-jalan sempit, berkelok-kelok, dan berbelok (kotor maksudnya). sudah merupakan kewajiban kita melakukan kunjungan, untuk melihat perilaku, lingkungan dan kondisi kesehatan. Terkadang saya suka terkagum, banyak pasien Bu Ratna yang sudah sembuh masih menyambung silaturahmi dengan Bu Ratna bahkan terkadang datang menemui Bu Ratna datang membawa makanan. hehe.. enak juga ya bu

Hari itu, kami mengunjungi pasien Bu Ratna, pasien ini sudah sembuh tepatnya. Namanya Ibu Oom tinggal di pelosok kampung Sumur Batu. Saya sudah pernah ke rumah Bu Oom sebelumnya tapi tidak dengan Bu Ratna, dan pada hari itu saya pun mengajaknya untuk menemui Bu Oom. Sesampainya disana, ternyata Bu Oom tidak sedang di tempat, kami pun bertemu anaknya ternyata Bu Oom sedang menjemput anaknya disekolah dan sebentar lagi pulang. Kami pun menunggu, karena tampaknya Bu Ratna sangat ingin sekali melihat kondisi Bu Oom. Tidak lama kemudian datanglah Bu Oom, yap dengan suaranya yang lucu, lucu terdengar karena suaranya yang bindeng hehe.. oleh karena itu kita harus betul-betul membutuhkan konsentrasi tinggi untuk menyimak kata demi kata yang dia ucapkan.

Tujuan kami sebenarnya adalah melihat kondisi kesehatan Bu Oom sekarang, fine.. dia baik-baik saja dan tampaknya penyakit TB nya sudah benar-benar hilang. Alih-alih berbicara tentang masalah kesehatan bahwa penyakit yang diderita Bu Oom masih ada hubungannya dengan pekerjaannya sebagai pembersih sampah plastik. Yap disekitar tempat tinggal Bu Oom hampir semua masyarakat bekerja sebagai pemulung di TPA dan mereka sangat beresiko terkena penyakit TB. Sulit memang menyadarkan mereka baru, mungkin jika sudah seperti Bu Oom mereka baru bisa sadar.

Pembicaraan antara Bu Oom dan Bu Ratna terus berlanjut, hingga berlanujut ke curhat, hehe curhat yap.. curhat tentang kondisi keluarganya sekarang, curhat yang ternyata, suaminya berpoligami dan itu sudah berlangsung lama, curhat tentang betapa sulitnya ekonomi mereka, terutama swaktu lebaran kemarin. Saya pun hanya melihat pembicaraan mereka, sesekali tersenyum mendengar suara bindeng Bu Oom hehe, sesekali menimpali namun lebih asik mendengar pembicaraan mereka. Bu Ratna tampak antusias mendengarnya dan sesekali memberi nasihat agar Bu Oom tetap bersabar.

Entah.. tapi mungkin apa saya saksikan waktu itu, adalah sebuah visualisasi nyata.. tidak hanya sekedar hubungan tenaga kesehatan dan pasien, dan saya pun cukup terkagum dengan bu Ratna. di usia yang sudah cukup tua, mungkin 2 - 3 tahun lagi pensiun. Masih memiliki semangat mau mengunjungi orang-orang seprti Bu Oom meski harus bertarung dengan panas dan berbagai resiko yang mungkin bisa terjadi di lapangan.

Saya adalah Bu Ratna adalah partner, dimana kami saling membutuhkan, saling membantu, dan yang terpenting saya masih menunggu pengalaman-pengalaman menarik lainnya dengan beliau.

Satu hal tak mungkin di lupakan Bu Ratna tentang saya adalah Benjolan di kepala yang kini sudah hilang karena terjatuh dari motor berkat kecerobohan saya... hehehe... duh punten maaf ya Bu. dan dia hanya bilang "Udah de jangan diikirin" (sambil memegang benjolan dikepalanya waktu itu)

Senin, 06 Juni 2011

Antara Kebiasaan, Ketidakpedulian dan Keterpaksaan..

Coba perhatikan tulisannya…  Yang Buang Sampah disini Orang2….. titik-titiknya terserah deh mau diisi apa.., plang tulisan seperti ini banyak sekali kita temui pada tempat-tempat sampah, loh kok bisa tempat sampah kan harusnya ditulis dengan tulisan “TPS” atau “Silahkan buang disini tapi bayar” hehe..  Ya iyalah tulisannnya agak sangar, galak, dan terkesan memaki karena ini tempat sampah illegal,  yang pasti ini bentuk ekspresi kekesalan (sarkasme) dari sang pemilik lahan karena lahannya penuh dengan sampah. Tulisan ini tidak ditujukan untuk satu orang, tapi untuk orang banyak, tidak hanya ratusan bahkan ribuan orang (hehe lebayy), sebenarnya yang buang sampah disini …paling… tidak lebih dari 50 orang saja.

Tapi itulah realitanya sekarang, lahan semakin sempit  orang-orang tidak hanya bingung atau pusing saat mengikuti  ujian seleksi masuk perguruan tinggi saja .. yap.. sebenranya tulisan ini saya buat sembari menunggu adik yang sedang mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi dari pada menunggu lama, lebih baik saya berpusing-pusing ria juga bikin tulisan ini.. hehe… lanjut ya.. jadi yang pusing itu tidak Cuma orang yang sedang menikuti ujian saja, atau bahkan seorang manager yang sulit mengatur anak buahnya yang bener-bener  susah banged diatur.. atau  seorang karyawan yang pusing memikirkan “ko gaji ga naik-naik ya..” atau juga seorang petugas puskesmas yang pusing keliling nyari cap stempel RT RW.. belum lagi ternyata pa RT RW tidak ada dirumah plus stempelnya juga tidak ada, pastilah tidak ada karena selalu disimpan dijok motor.. nice (pengalaman pribadi nih) .. hehe itu namanya dinamika mas.. tapi juga sekarang orang bisa pusing dan bingung karena sampah..” kemana ni sampah harus di buang”.

Permasalahan klasik ya…!  Seyognya setiap  orang bisa menghasilkan sampah 0,8 -  1 kg perhari (Kementrian Lingkungan Hidup, tahun 2010) kalau 1 KK terdiri dari 4 orang berarti 1 KK bisa menghasilkan 4 kg, kita ambil contoh deh di wilayah saya kerja Kelurahan Bantar Gebang, terdiri dari 7343 KK, berarti dalam 1 hari penduduk di wilayah kelurahan Bantar Gebang bisa menghasilkan sampah sebesar  +  29.736 kg sampah perhari. Terus pertanyaannya, di buang kemana tuh sampah? Yang jelas k tempat sampah lah, nanya lagi ah.. illegal apa legal? Itu dia yang belum bisa terpecahkan… tapi minimal saya punya gambaran.. ternyata usut punya usut.. sebagian besar penduduk di wilayah Kelurahan Bantar Gebang sudah melakukan pengelolaan dan sudah memilki sarana TPS, bagus deh.. tapi mereka yang masih punya lahan besar lebih memilih untuk dibakar sendiri, karena pastinya tidak perlu iuran kan, tapi ada yang lebih parah lagi mereka yang tidak punya lahan dan tidak mau iuran… akibatnya ya seperti gambar diatas ..keluar deh kata-kata makian.. hehe..

PR buat saya dan seluruh Sanitarian tentunya,  Sangat jelas bahwa sampah memang menjadi permasalahan lingkungan di negeri ini, sangat disadari bahwa ini bukan pekerjaan mudah, tidak cukup hanya disediakan lahan tapi juga pengelolaan yang baik, jangan sampai disatu sisi menyelasaikan masalah tapi dikemudian hari malah bisa menimbulkan masalah lain. Contohnya saja truk-truk sampah yang sering saya temui di jalan-jalan, disatu sisi orang senang karena sampahnya sudah terangkut dan lingkungan kembali bersih tapi sepanjang perjalanan truk-truk itu meneteskan leachet-leachet (air sampah) yang sangat bau dan sangat mengganngu terutama bagi kesehatan. Seperti itulah, butuh pengelolaan yang baik juga dana besar terutama untuk perawatan truk-truk pengangkut sampah itu.

Semua itu sebenarnya bisa dikembalikan kepada kita, kita harus mulai lebih bijak memperlakukan sampah karena sebenarnya tidak semua sampah itu bahan tidak berguna, banyak yang bisa digunakan kembali, didaur ulang, dijadikan kompos, atau dikumpulkan dan dijadikan uang, atau bahkan diperbaiki kembali.. tidak mudah memang tapi kenapa tidak kita coba.. tujuannya agar tidak ada lagi gunung-gunung sampah seperti di Bantar gebang (bisa ga ya..?). dan yang penting nih tidak ada lagi plang-plang dengan tulisan aneh, yang sangat mencerminkan kalo kita ni ga gaul.. hehe.. harusnya kan pake bahasa inggris pa.. contohnya gini “do not throw the garbage in this area.. or I kill u..” hehe.. lebih parah lagi itu mah..

Tentunya sudah menjadi harapan semua orang untuk bisa tinggal di lingkungan sehat, karena itulah indikator kesehatan manusia, jadi terakhir saya Cuma mau mengutip kata-kata ibu Dwi (Kasie Kesling Dinkes Kota Bekasi)…
“HIDUP SEHAT DI LINGKUNGAN SEHAT”